Mayong, Jepara — 20 September 2025
Dalam upaya memperkuat fondasi kebangsaan di tengah arus informasi yang semakin kompleks, Anggota DPR/MPR RI Fraksi Partai Golkar, Jamaludin Malik, S.H., M.H., bersama narasumber ahli Noor Akhlis, melaksanakan kegiatan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI dengan tema “Memperkokoh NKRI dengan Memahami dan Mengamalkan Nilai-Nilai Empat Pilar”. Kegiatan ini digelar di Taman Kopi, Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara, pada Sabtu (20/9/2025), mulai pukul 18.30 WIB hingga larut malam.
Kegiatan ini dihadiri oleh sekitar 150 peserta dari berbagai lapisan masyarakat, termasuk tokoh agama, perangkat desa, kader PKK, pemuda karang taruna, pelaku UMKM, pelajar, serta mahasiswa dari wilayah Kecamatan Mayong dan sekitarnya.

Dalam paparannya, Jamaludin Malik menegaskan bahwa Empat Pilar MPR RI—yaitu Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD 1945), Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ika—bukan sekadar dokumen konstitusional atau hafalan pelajaran sekolah, melainkan nilai-nilai hidup yang harus diamalkan dalam keseharian.
“Empat Pilar ini harus hadir di dapur rumah tangga, di ladang petani, di pasar, hingga di ruang digital. Karena hanya dengan menghayati dan mengamalkannya, NKRI bisa tetap utuh,” tegas Jamaludin.
Ia menekankan bahwa desa adalah benteng terakhir Pancasila, tempat nilai-nilai gotong royong, toleransi, dan kearifan lokal tumbuh subur. Namun, di tengah gempuran disinformasi dan narasi yang memecah belah, masyarakat desa juga harus dibekali pemahaman konstitusional yang memadai—termasuk hak-hak dasar yang dijamin dalam Pasal 34 UUD 1945, seperti pemeliharaan terhadap fakir miskin dan anak terlantar.
Sosialisasi Empat Pilar MPR RI di Mayong: Memperkokoh NKRI dari Akar Rumput
Sementara itu, Noor Akhlis, narasumber ahli dalam bidang kebangsaan dan konstitusi, menambahkan bahwa penguatan identitas kebangsaan harus dimulai dari pendidikan nonformal di tingkat akar rumput. Ia mengajak masyarakat untuk aktif mengawal ruang publik, terutama media sosial, dari konten-konten yang merongrong persatuan.
“Keberagaman yang tercermin dalam Bhinneka Tunggal Ika bukan penghalang, tapi justru kekuatan. Namun, kekuatan itu hanya akan nyata jika kita semua menjadikannya sebagai prinsip hidup, bukan hanya slogan,” ujar Noor Akhlis.
Kegiatan berlangsung dalam suasana dialogis dan interaktif. Sejumlah peserta menyampaikan pertanyaan dan pandangan terkait tantangan implementasi Empat Pilar di era digital, peran perempuan dalam pendidikan kebangsaan, hingga perlunya modul sosialisasi yang sesuai untuk anak usia dini.
Menanggapi berbagai masukan, Jamaludin Malik menyampaikan apresiasi tinggi terhadap partisipasi aktif masyarakat. Ia menegaskan bahwa nasionalisme masa kini bukan hanya tentang pengorbanan fisik, tetapi juga tentang tindakan konkret—seperti membuat konten positif di media sosial, menggalang solidaritas sosial, atau memastikan hak-hak konstitusional warga terpenuhi.
“Kalau kalian membuat video TikTok tentang sejarah desa, gotong royong, atau toleransi antarumat beragama, itu juga bentuk nasionalisme. Itulah yang kita butuhkan di zaman ini,” katanya.
Di akhir acara, peserta menyampaikan rekomendasi agar kegiatan serupa berlanjut secara berkelanjutan hingga ke tingkat RT, majelis taklim, kelompok PKK, dan komunitas digital, serta didukung dengan materi sosialisasi dalam format digital yang mudah disebarluaskan.
“Empat Pilar bukan hanya milik elite politik atau gedung parlemen. Ini adalah milik seluruh rakyat Indonesia. Dan dari Mayong, semangat itu harus terus menyala,” pungkas Jamaludin Malik.
Kontak Media:
Tim Jamaludin Malik
Email: jm01@jamaludinmalik.id
Website: 1. jamaludinmalik.id



